Agak terlambat sepertinya saat saya mengetahui keberadaan sosok Robotgoblok sebagai salah seorang seniman dari Yogyakarta. Tepatnya tahun 2007 di Kedai Kebun pada event bertajuk “insert caharacter”, saya menemukan karakter robot menarik dengan warna yang mencolok dan background warna magenta yang tercetak pada media berbentuk seperti tempat pensil dan saat itu pula saya jatuh hati pada karya tersebut, lalu kemudian...membelinya.
Pertemuan kedua kami, terjadi saat ada solo exhibition di Cemeti Art House pada tanggal 5 Mei 2009. Namun, lagi-lagi di awal kedatangan, saya tak menyadari (kuper bisa dibilang) bahwa itu juga adalah seniman yang sama seperti yang saya lihat 1,5 tahun yang lalu. Bukan pembelaan, karena di pameran ini, nama yang tercantum adalah Solo Exhibition By Terra Bajraghosa “Power to The Pixel (and to the artisans)”, bukannya Robotgoblok.

Hampir sekitar satu jam saya berada dalam venue pameran tersebut dan sempat membuat karakter diri sendiri menggunakan alat yang dibuat Terra, yaitu Narcissus Pixelus Project. Lebih tepatnya alat yang mirip seperti kotak ATM dan dilengkapi dengan layar touch screen, kemudian para pengunjung bisa berinteraksi langsung dengan memilih banyaknya aksesoris pixel untuk dijadikan karakter yang “gue banget” dan bisa mendapat cetakannya untuk cinderamata. Satu kata untuk Terra a.k.a Robotgoblok saat itu adalah MENARIK.
Menariknya lagi adalah Terra mampu bermain-main dengan karakter karyanya dan tampak sangat larut di dalamnya. Ini yang kemudian membuat saya menjadi salah satu penggemar dari karya-karyanya.
Nama lengkapnya mungkin anda sudah lebih tahu lebih dahulu dari saya, yaitu Terra Bajraghosa. Lelaki berzodiak Aries ini menyelesaikanstudi sarjana strata satunya di Institut Seni Indonesia, jurusan Desain Komunikasi Visual. Selain berkarya di dunia desain untuk kepuasan diri sendiri, sekarang Terra juga menjadi Dosen bagi Institut almamaternya. Melalui obrolan ringan dengan Terra, saya menangkap banyak hal menarik yang dia sempat utarakan. Dimulai dari awal berkarya Terra yang hanya berdasarkan hobi dan kemudian setelah menyelesaikan studi, dia bahkan sempat tergoda untuk bekerja secara “kantoran”. Sambil berkelakar, Terra berkata “Kalau saya sampai sekarang masih kerja kantoran, mungkin ga bisa sampai China”.
Lalu bagaimana hubungan Robotgoblok dengan Terra Bajraghosa? Apakah robotgoblok itu alter ego bagi diri Terra sendiri?
Sebenarnya di awal berkarya, Terra menggunakan nama Chillaworks untuk signature di karya-karyanya. Saat menjadi Chillaworks, Terra banyak menuangkan ide karyanya dalam bentuk grafitti, desain street art dan bahkan untuk sekedar hobi Terra dalam dunia Hip Hop. Chillaworks, menjadi arena bermain Terra dalam dunia “Chill”nya yang bisa diartikan dengan santai, namun tetap cool.

Tak cukup dengan satu identitas, Terra kemudian menyusuri lagi keinginan-keinginan pribadinya dan memunculkan Robotgoblok sebagai teman “lain” Terra. Gejala ini mungkin bisa di nilai sebagai pemunculan alter ego di diri Terra. Dia mengakui, bahwa belajarmemunculkan karakter ini melalui penyanyi Eminem yang muncul dengan tiga karakter dalam dirinya seperti Slim Shaddy, Marshal Matter dan Eminem itu sendiri.
Bertiga, Chillaworks; Robotgoblok dan Terra, mereka menjadi teman yang kemudian mempunyai karakteristik berbeda-beda. Jika, Chillaworks menyukai Hip-Hop lifestyle yang berkesan sangat dinamis, maka Robotgoblok menyukai permainan grafis yang tegas, cemerlang dan colourfull dan Terra sendiri berusaha menjadi seseorang yang moderat diantara mereka berdua. Mungkin saja, Terra adalah sosok yang ramah, pemalu ataupun pekerja keras, namun bukan pada kapasitas saya untuk men-capnya demikian. Karena, layaknya bocah yang sedang bermain, mereka bertiga bisa saja bermain dengan mainan yang sama ataupun bertengkar dan kemudian memainkan mainan mereka masing-masing. Tak ada sesuatu yang mandeg disana.
Dikutip dari catatan kurator Hendro Wiyanto pada pameran tunggal Terra “Robotgoblok and the Pop Caste”, 2008 yaitu Robotgoblok menurut Terra tak lain adalah parodi dan pastiche mengenai jagoan dan robot. Terra pun berkata pada saat itu bahwa “robot yang dipuji adalah robot yang menurut perintah tuannya, karena itu disebut robot pintar. Saya memilih Robotgoblok untuk menunjukkan bahwa saya sendiri tidak suka mengikuti perintah itu”. Bahkan kadang sosok Robotgoblok tampak mendominasi Terra atau dengan kata lain lebih dikenal dari Terra sendiri.
Permainan Terra dengan ketiga tokoh itu pun tampaknya tak menjadi masalah. Karena, semuanya lahir dan dipengaruhi melalui pengalaman visual yang dialami oleh diri Terra sendiri. Seperti contoh dalam karya video animasinya yang berjudul “Biscuit Bussines”, Terra menggunakan pengalaman visualnya terhadap gambar-gambar di kemasan kue dan wafer yang sangat terkenal di pasaran seperti Marie Regal dan Danisa Biscuit, yang kemudian dikonstruksi menjadi animasi bernuansa pop dan alunan music ala DJ. Permainan Terra yang lain juga berupa rasa ketidaksukaan pada beberapa tampilan desain cover pada majalah, lalu menimpalinya dengan gambar-gambar robot dan menjadikan karya tersebut menjadi karya bernuansa baru. Sebenarnya kesukaan Terra pada robot pun bisa saja berubah, namun perubahan itu tak akan membuat Terra untuk mengganti misinya dalam berkarya yaitu “menghibur masyarakat”.
Obrolan saya, hampir berakhir di pukul 22.30 WIB dengan Terra Bajraghosa. Malam itu saya banyak bermain dan diceritakan hal-hal menarik oleh Terra, beberapa sempat saya catat dan selebihnya menjadi memori dongeng asyik bagi saya sendiri. Tapi satu yang selalu saya ingat tentang kata “PLAY” versi Terra buat anak-anak muda di luar sana, “Kalau main, main-mainnya diseriusin jadi ga cuma sekedar main-main” pesan Terra yang tahun depan Insya Allah akan mengadakan pameran Youth Olimpic di Singapore.
C’mon…lets play with Terra Bajraghosa. You can join in http://rob-gob.blogspot.com or http://robotgoblok.com
*All photos of Terra and Robotgoblok was take from Robotgoblok’s blog.
No comments:
Post a Comment